Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts

Sunday, 17 March 2013

PELACUR BERKELAS


Wangi tubuhmu menebar
Tubuhmu terlihat bugar
Tubuhmu setengah telanjang ditawar
Dengan uang setumpukan kau kan dibayar
Sejam saja kau telah jadi jutawan
Semalaman kau bisa membuat isi dompet penuh lembaran

Tubuhku bergoyang dalam alunan
Mata-mata keranjang memperhatikan
Kulirik mereka sekejab
Detak jantung mereka berhenti berdetak
Lalu saat aku menghampiri
Satu orang mendekati
Mobil yang terpakir di depan diskotek ini akan kau miliki
Ia mulai menawari, tapi..
Bau mulutnya sama sekali tak menimbulkan birahi, lalu..
Kuhempas pikiran yang membuatku merugi
Kutarik ia dalam sebuah ilusi di kamar seharga perjalanan ke Itali
 
Pintu di tutup rapat, ia mulai mendekat
Aku membuka sepatu yang terikat
Matanya mungkin sedikit cacat
Tiba-tiba ia mengerjab bejat
Tunggu. Aku punya syarat, berkata padanya cepat
Tunggu. Biar aku perjelas dengan cermat

Apa kau tahu siapa presiden Guatemala yang pertama?
Dia menggeleng, otaknya tak mencerna
apa kau tahu berapa orang yang menghuni Indonesia?
Dahinya mengerut, tak juga dijawabnya
Apa kau tahu di mana pulau terkecil di dunia?
Amarahnya terlihat sudah sampai di ujung kepala

Satu persatu baju yang terlepas sudah menempel pas
Aku tersenyum puas
Satu persatu barangnya ia kemas
Aku tersenyum bagai serigala buas
Ia melangkah dengan langkahnya paling luas

Tunggu. Aku punya syarat, berkata padanya cepat
Tunggu. Biar aku perjelas dengan cermat

Kehormatanmu kusita
Kukembalikan saat kau bisa menghargai wanita
Ia melenggang tanpa kata
Aku pun tertawa

Bangkitnya Anak Hawa



Orang-orang boleh berkata aku sampah.
Mereka pun boleh memanggilku luka bernanah.
Mulut-mulut busuk, mulutku pun membusuk.
Otak-otak cecunguk. Otak-otak para munyuk.
Kadang mereka hanya berkabung duka.
Sering kali terjerat pilunya cinta.
Ah, jijik sekali aku mengucap kata cinta.
Kenapa mereka memujanya begitu jaya.
Bukankah karena cinta mereka menjadi budak?
Bukannya karena cinta hati mereka luluh lantak?
Bangun. Bangunlah wahai kau anak Hawa tak berakal.
Berdirilah. Tegakkan tubuhmu dari kematian dan ajal.
Cinta mungkin begitu tajamnya aku cerca.
Cinta mungkin aku tuduh sebagai penyebab kehancuran wanita.
Namun, jauh di dalam dada aku diam-diam mencintanya.
Aku mengabdikan akalku demi cinta.
Munafikkah aku? Iya.
Lalu, benciku pada cinta hanya karena banyak yang salah mengartikannya.
Derita. Nestapa. Luka. Duka,
Akhir dari kebanyakan kisah cinta.
Bahagia. Suka. Gembira. Gegap gempita,
Hayal belaka seperti dongeng mengisahkannya.
duka derita suka gempita selalu menyatu tak ada dua.
Namun satu yang perlu mereka tahu.
Cinta memberikan warna pada hidup kita,
Seperti pujangga menghukuminya.
Nikmati saja lika-likunya.
Awas saja jika sampai kau menjadi budak karena cinta.
Kukutuki kau yang otaknya hampa.
Saatnya bangkit wahai wanita.
Pergunakan otakmu sebaik-baiknya.


Tuesday, 12 March 2013

Kerikil

malam, tidak ku rasa dingin yang menyengat
gelap, embun pagi telah tewas
teriakan burung emprit mulai menyergap
angin berhembus dengan malas

perutku lapar, bapak hanya sajikan pesan
mataku ingin kandas, tapi rongrongan cacing membuatku jengah
kakiku apalagi, terserang semut yang tak tampak
isi kening tercabut dari akal sehat

ah, ada onggokan besi yang bisa ku makan
ku buka bungkusnya yang rapi berkaret baja
lama, ku tunggu sampai nafasku mulai redup
ah, terbuka juga

tubuhku seketika layu mendayu
isi dalam dadaku terjun bebas dalam sebuah kolam penuh paku
bukan besi yang menguatkan tubuhku yang ku telan
batu kerikil tajam!

ku hempas keras nyanyi neraka
aku bangkit tersengal, namun kebal



Monday, 25 February 2013

Bintang, katakan padanya.

bintang, kutitipkan salam untuknya
dia yang ada di sana
dia yang selalu ada di sini
di dalam hatiku yang selalu menantinya

kini hujan mulai berjatuhan
dan air mataku di sini mengalir lagi
senja memperjelas kerinduan yang amat dalam
memperlihatkan kekosongan

ku ingin sekedar memeluknya 
mengatakan apa yang kurasa
oh bintang kumohon katakan padanya
ku ingin memeluknya

bintang, kerlipmu menyilaukan mata
mengingatkanku akan dirinya
dia yang jauh di sana
ku ingin bersamanya, melihat senyumnya

kini kusadari bahwa ini hanya mimpi
dia tak ada lagi
dia yang tlah pergi
dia yang tak kembali

Wednesday, 13 February 2013

salahkah?

ingin bergelut dalam argumentasi. 
ingin mengadu tentang ketaksepahamanku. 
mengapa tercipta aturan yang membelenggu manusiamu 
mengapa kau buai mreka dalam angan yang teralir beku?? 
ini semua bukan berarti ak tak mempercYaimu 
bukan bermakna pula aku tak meninggikanmu 
hanya kau ingin aku percaya padamu yang tak tampak di mataku. 
kubisu bukan berarti bungkam 
tak mungkin lagi aku mengecam 
kau yang menjelma 
kau pula yang mencipta 
biru ini adalah deritaku 
namun.. 
kau tawar aku untuk menerima yang tak ingin kubawa. 
kau rayu aku untuk mencinta yang kutak suka. 
bukan maksud ku mengecammu. 
ku tak ingin sekalipun menjadi hina di depanmu 
memang ku tak bisa melihatmu dalam nyataku. 
tapi paling tidak tunjukkanlah padaku kebenaranmu 
berikanlah kuncimu 
kalau aku memang tertakdir untuk meyakinimu.

5 juli 2012

Monday, 11 February 2013

aku wanita. aku perempuan


Aku wanita. Aku perempuan.
Aku punya vagina seperti kebanyakan perempuan.
Aku punya payudara seperti wanita kebanyakan.
Aku punya rambut panjang yang rentan kerontokan,
Sama seperti wanita dan perempuan kebanyakan.

Aku wanita. Aku perempuan.
Mereka bilang tugasku ada di dapur penuh kepulan.
Mereka bilang kodratku mengurus keturunan.
Mereka bilang kewajibanku memuaskan di ranjang.
Mereka bilang aku tak wajib bersekolah panjang-panjang.
“toh, nantinya kamu jadi istri juga.” Kata mereka lantang.

Aku wanita. Aku perempuan.
Aku pun manusia sama seperti kalian, wahai pejantan.
Aku iri pada kalian yang bisa mengeluarkan keluh kesah kalian.
Apa kalian pikir aku tak punya omelan?
Apa kalian pikir aku hanya ditakdirkan untuk mengangkang?

Aku wanita. Aku perempuan.
Aku memang sering terdiam.
Bukan karena pasrah pada keadaan.
Aku hanya menunggu kesempatan untuk membungkam mulut kalian.
Ini bukan peperangan. Ini hanya tuntutan keadilan.
Memang kita beda kelamin, tapi kita sama punya otak, bukan?




Monday, 28 January 2013

sesak


Kutarik perlahan deru nafasku
Seperti ribuan ton menghalangi ia berlari
Helaku pelan dan singkat
Aku tak merasa kecewa tak pula mendendam
Hatiku tak pedih tak juga perih
Tolong, bukakan sedikit resleting ini
Aku benar-benar merasa sesak
Tolong, bongkar saja gembok ini
Aku sungguh-sungguh kesakitan
Pelan dan perlahan…
Hembusanku kucoba tahan
Yang kudengar detak jantungku yang memelan, mengempis dan mengemis
Aku ingin membuka semua yang kukenakan
 Aku ingin membuang yang terlihat menghalangi pandangan
Aku sesak aku kesakitan dengan semua yang menghalangi tubuhku
Mulutku tak bisa membantuku sedikit bernafas dengan lega
Kucoba lagi sebentar, menariknya kasar
Aku bergetar. Tubuhku gemetar…

Thursday, 27 December 2012

waRNING!!

hening. hening. hening
tak ada sapamu. hening
tak ada statusmu. hening
tak ada twitmu. hening
tak ada panggilan selular darimu. hening

hal yang wajar! semua orang pernah merasakan hal yang sama.

hampa. hampa. hampa
tak ada senyumanmu. hampa
tak ada usap lembut tanganmu di kepalaku. hampa
tak ada kecupan selamat pagi. hampa
tak ada peluk hangatmu. hampa

normal!! masih normal!!

bosan. bosan. bosan
bosan menunggumu ucapkan rindu. bosan
bosan selalu menyapamu terlebih dahulu. bosan
bosan kau acuhkan aku. bosan
bosan kau bilang kita sudah tak bisa menjadi kita lagi. bosan

apa lagi?? manusiawi!!!

muak. muak. muak
selalu merindukanmu. muak
selalu mencintaimu. muak
tak bisa melupakanmu. muak
selalu mengharapkanmu. muak

arghhhhh..... cukuplah. sudah cukup sakit ini membunuh perasaanku. kini memang aku telah membongkar mayat hatiku dari kediamannya dalam kubur. aku tak mau lagi hati itu dipenuhi oleh kegelapan. tak mau.
sudah saatnya aku memajangnya dalam galeri ketakpedulian. biarkan lukanya menganga di sana sampai mengering. biar semua orang tahu. biar saja. biar mereka tahu bahwa hati ini telah benar-benar terluka. biarkan ia membusuk di sana. daripada hatiku dimakan ulat di alam kubur. lebih baik aku membuatnya bangkit dari kematiannya.
bukan untuk ditemukan oleh siapapun lagi, tapi untuk menjadi pelajaran bagimu para pecinta. hiduplah menderita jika kau tak bisa mengendalikan cinta!

Monday, 24 December 2012

TAK sempurna


Aku ingin bercerita tentang cinta, tapi ini bukan cerita cinta biasa.
Aku ingin membawamu merasakan cinta, cinta yang tidak biasa.
Aku ingin mencoba mengenalkanmu pada cinta, cinta yang bukan sekedar cinta
Aku ingin menaburkan cinta pada luka, jelas itu bukan cinta biasa.

Suatu ketika cinta terbata, ia bahkan seperti tak bisa berucap, ia hanya mangap, seperti menguap.
Suatu saat cinta bersembunyi, ia takut diketahui, ia hanya merasa dirinya duri.
Suatu masa cinta terkejut, ia merasa sakit hati, meski ia tahu ia tak punya hati lagi
Suatu waktu cinta mulai sepi, perasaan yang ia tahu ada ternyata jadi hampa bersarang derita.
Oh…cinta… itu cerita biasa.
Semua merasakan yang sama. Lalu
kenapa kau bilang ini bukan cerita cinta biasa?
Memang ini bukan cerita cinta biasa.
Kau tahu ini apa?
Ini cinta yang luar biasa.
Di saat cinta ada, luka pun mengada.
Di saat cinta terbang menghilang, derita menerpa.
Lalu apa yang bisa cinta berikan sebenarnya?
Bukannya sudah biasa orang mengatakan cinta membawa bahagia?
Bullshit ku bilang.
Memang siapa yang berkata cinta membawa bahagia?
Owh,, pujangga berotak surga.
Mereka memang benar adanya, yah.. barang kali mereka merasakannya benar.
Cinta memang membawa bahagia
Tapi itu dulu sebelum kita mengenal apa artinya mencintai lebih dari satu cinta.
Kau tau akibatnya?
Akibatnya cinta jadi tiada membawamu ke surga.
Kau memang bahagia jika mendapatkan mereka berdua.bertiga,berempat,
Tapi apa sebenarnya yang mau kau berikan jika kau tak satu jiwa?
Mereka menginginkanmu mencintai mereka, diri mereka, bukan diri selain diri mereka.
Satu saja.
Tapi ini berbeda.
Kau tak bisa.
Kau mencintai mereka berdua yang mencintaimu.
Lalu apa yang kan kau lakukan selanjutnya?
Menyuruh mereka lega?
Tak bisa. seperti aku, mereka.
Aku ingin memiliki dan merasa dimiliki. Cukup satu orang saja. tapi  kau beda. Kau tak bisa memilih diantara satunya.
Adakah kejomplangan terasa? Apa cinta yang kau berikan sama?
Sama pun jumlahnya tak akan lebih dari 50 persen.
Bayangkan saja cinta itu berbiji 100.
Kau membaginya dua pula. Paling pol hanya 50 persen jika rata.
Ah, aku tak mau hanya kau beri 50 saja. seperti tak ada. Siapa pun mau yang lebih dari 50 persen.
Yah, itu hanya ibarat. Aku tak tahu apa yang sungguh terjadi. mulutku hanya seonggok basi.
Sudahlah. Kau temanku, aku peduli padamu. Aku senang kau percayai aku untuk menukar ceritamu.
Tapi entahlah, mungkin aku berlaku sebagai lawanmu.
Aku tak menyalahkanmu. Aku hanya menyalahkan waktu itu.
waktu di mana kau tak bisa menjaga satu hatimu untuk cinta itu.
sudahlah, semua usai terjadi. kau hanya perlu sadari dan cermati.
Mereka yang kau cintai merasakan luka seperti yang kau derita.
Atau…
Mungkin lebih..
Tak apa, kau dan aku pun sama.
Salah salah kata, salah salah rasa, salah salah salah…
Ah, hal itu sudah biasa.
Kita kan bukan manusia sempurna…

Saturday, 22 December 2012

hati-hati, Hati


HATIKU atau HATI SIAPA?
Hatiku di dalam tubuhku yang layu,apa wujudnya?
Hatiku, terselubung oleh selaput berdebu, apa dia baik-baik saja?
Tak pernah sekalipun kulihat hatiku, mungkin dia membusuk berbau
Tak sekalipun aku menjenguknya yang sejak saat itu telah menderita penyakit kronis
Tak satu pun hari aku coba untuk membantu membalut lukanya
Apa kabar kau di sana?
Kulihat ia menggeliat, perlahan menahan sakitnya
Hatiku kini mengerang mempertahankan hidupnya yang sengsara
Kenapa aku begitu tega membiarkannya berbalur borok bernanah?
Kasihan benar hatiku
Aku memperlakukannya seperti anak tiri yang tersia.
Tapi biarlah, mungkin akan kukubur saja sewaktu ia telah mati nanti.
Tinggal tunggu waktu saja sebelum ia benar-benar sekarat dan mati.
Saat itu aku tak akan menjadi manusia berdosa lagi dengan membiarkannya terkulai sepi,
Terbaring sendiri.
Cepatlah mati saja biar ku tak sakit lagi membawamu dalam tubuhku yang juga hampir mati.

SEANDAINYA




 
Seandainya waktu dapat kuhentikan
Seandainya dapat waktu di-rewind,  seperti memutar ulang film
Seandainya waktu bisa kupasang seperti yang kuinginkan
Seandainya waktu cepat berputar ketika membosankan, seperti mempercepat film
Seandainya aku mampu mengatur waktu sesukaku
Seandainya waktu ada ditanganku untuk ku buang yang tak perlu
Seandainya waktu yang indah tak berhenti berjalan
Seandainya waktu yang tak kuingini tak datang padaku

Ah, seandainya seandainya seandainya
Seandainya seandainya seandainya
Berapa kali lagi aku hidup dalam kata seandainya
Jengah melihat kata itu beredar di otakku
Mampus saja kau dari dulu
Biarkan otak ini bekerja semestinya
Menerima apapun yang ada
Seandainya seandainya seandainya
Seandainya aku mampu membuang seandainya dari kepalaku
Seandainya aku tak mengenal kata seandainya
Arrrgh…kembali lagi seandainya seandainya
Seandainya, mati saja kau!!!!

Sunday, 16 December 2012

story of us chapter 3


Tiba tiba kulihat tanda merah di ponselku
Tiba tiba perutku mulas
Tiba-tiba ada desiran ngilu sampai ulu hatiku
Ah, ada pesan darimu malam itu
Di tengah malam saat ku terjaga.
Masih saja aku menyimpanmu di hatiku, oh ternyata.

Apa tak cukup sampai saat itu saja ketika kita saling melambaikan tangan?
Apa tak cukup di sana ketika air mataku menitik ketika kau ucap tak ingin lagi bersama?
Apa tak cukup ketika aku berkata bahwa ku ikhlaskan maumu itu?
Bullshit. Siapa yang ikhlas? Terluka, iya!!
Penuh luka dan bilur di sana, di hatiku yang perlahan membengkak lagi setelah sekian lama
Tuhan… kenapa begitu lara kau ciptakannya?
Apa tak cukup hanya seperti tertampar barang sejenak?
Kenapa harus seperti terikat jeruji besi tajam? Menyakitkan sampai kini.

Lalu aku pun membalas pesanmu. Entah. Kau sedang memikirkan apa di sana.
Entah kau sedang berkabar apa di sana.
Kau kacau.
Kau rentan.
Aku hanya pilu, tak bisa berlaku.
Kau dan aku tak di tempat yang sama.
Aku tak bisa sekedar memelukmu, seperti inginku selalu.
Aku tak bisa memadamkan deritamu, kesalnya aku pada diriku.

Dan malam, malam bisu ini menjadi saksi
Aku begitu resah menanti setiap kata
Kata yang akan muncul dari pesanmu itu.
Meski aku tahu, tak mungkin kau masih sama seperti dulu
Mengucapkan setitik rindu untukku
Namun aku masih berharap kau katakan itu, yang hanya timbul dari hatimu.

Selamat malam, aku berharap kau akan baik-baik saja.
Aku berharap selalu bahagia yang kau rasa, di sana..

Thursday, 13 December 2012

untuk kau (story of us chapter 2)


 Aku masih ingat saat aku pertama melihatmu
Bukan cinta, tapi benci yang ada
Kau begitu angkuh di mataku
Aku begitu terganggu melihat lagakmu

Entah, aku dulu tak menyadari perasaan itu
Aku terlanjur tak peduli saja terhadap ulahmu
Hilang dimakan memori bersama kesibukanku
Hilang dihirup udara pekat di sekitarku

Sampai suatu ketika kau datang
Sampai saat kau hadir mengganggu hidupku
Mengusik kedamaianku mencintai kenanganku yang dulu
Memasuki celah yang kutambal dengan ketakpedulianku

Kau menghancurkan kesepianku
Kau memecahkan keheningan yang tercipta dari kesedihanku
Kau mencipta setitik hulu untukku berenang ke lautanmu yang biru
Kau robohkan kekeringan hatiku yang tak lagi tersirami rintik hujan cinta

Begitu indah, damai…
Kau membuatku tertawa, marah, rindu, bahagia, cinta
kau sadarkan aku dari mimpi burukku
kau temani kesendirianku, kerapuhanku,

kau menguatkan kelemahanku yang tak mencintai aku

tapi…
begitu anehnya rasa yang kau tawarkan
apa semuanya memang palsu dari awal aku mengenalmu?
Apa hidupmu penuh kepura-puraan dan kepalsuan hingga kau mencemarkannya pada hidupku?
Aku tulus mengijinkan kau memasuki ruang sempit dalam hatiku,
Namun kau berkata bahwa aku begitu mudahnya jatuh kepelukanmu, sama halnya kau mengatakan aku mudah jatuh pada kehangatan lain yang orang tawarkan padaku!
Kau salah! Apa kau tahu bahwa aku harus berperang dengan batinku sendiri?
Aku harus bersikukuh dengan aku yang lain untuk memasukkanmu dalam kehidupanku
Aku menang! Menang melawan aku yang lain. Dia mengijinkanmu mengisi kesakitan yang kuderita. Dia adalah aku yang lain. Tahukah kau??? Apa kau hanya tak mau tahu. Terserah.

Tapi…
Begitu anehnya rasa yang kau tawarkan
Kau tiba-tiba mengusirku dari kehidupanmu.
Kehidupanku yang kau masuki kini hancur lantak
Kau pergi meninggalkan onggokan harapan yang dengan susah payah kubangunkan untuk kita,
Itu pun dengan embel-embel permusuhan dengan aku yang lain yang tak menyukaimu hadir dalam kehidupanku. Tapi aku masih mempertahankanmu demi cintaku padamu. Kau tak percaya dan malah menganggapku berlebihan. Kau tak pernah paham! Terserah.

Tapi…
Rasa yang kau tawarkan begitu aneh
Kau terlihat begitu mencintaiku, tapi kudengar semuanya palsu!
Mana yang harus kupercaya?
Katamu kuhanya harus percaya Tuhan! Oke! Terserah!

Tapi…
Rasa yang kau tawarkan begitu aneh
Kau minta aku untuk pergi di saat aku begitu ingin memelukmu
Kau berkata kau hanya melukaiku dengan kehidupan yang kau jalani!
Oke! Terserah! Kau masih juga tak menjelaskan apa yang sebenarnya kau inginkan!
Aku hanya ingin kau utarakan!
Aku hanya ingin kau jujur…

Benar,.
Rasa yang tawarkan begitu aneh.
Kini kau menghilang. Kau memintaku untuk menghilang.
Di saat aku benar-benar membutuhkan pelukanmu.

Cukup. Aku terlalu menyalahkanmu,
Padahal aku tahu aku yang banyak salah terhadapmu.
Begitu banyak yang tak kulakukan untuk membuktikan kesungguhan hatiku
Hanya kata-kata yang kau bilang berlebihan yang selalu kutawarkan padamu
Maaf…aku tak bisa menjadi apa yang kau ingin. Aku telah mencobanya paling tidak.
Tak pernah aku senyaman itu berbicara, tak pernah sebahagia itu aku berada di samping seseorang. Dan itu pada kau! Kau yang akhirnya memilih pergi.
Terima kasih untuk semuanya… aku pernah merasa begitu bahagia bersamamu yang merelakan waktumu untuk menemani kesengsaraanku.

Untuk kau, Kau yang ternyata masih tersimpan dalam hati yang terbengkalai ini.


21 agsts

Wednesday, 12 December 2012

story of us chapter 1


Tiba-tiba begitu merindukannya
Seperti aku benar-benar dehidrasi
Aku membutuhkannya menghilangkan kekeringan rasa
Aku menginkannya mengubah tragedi
Membuatnya menjadi bahagia

Aku mencoba mengingat lagi
Sesaat sebelum kau mengayuh menjauh
Kau memelukku erat sampai aku tak bisa bernapas
Dan aku membiarkannya begitu saja.
Aku lebih memilih untuk mati dalam pelukanmu
Tak ingin kau lepaskan tanganmu yang melingkari tubuhku yang berderai duka

Dan kini aku termenung sendiri
Mencoba lagi mengenang apa yang kita dulu miliki
Mengenang kau yang mahir membuatku jatuh hati
Mengenang kau yang selalu ada saat ku rindui
Mengenang untuk kau rengkuh aku dalam dekapmu di sini

Tapi semua hanya kenangan
Kenangan yang kau bilang terlalu menyakitkan untuk diingat
Dan kurasa kau memang telah melupakannya
Melupakan aku dan semua yang pernah kita miliki bersama
Melupakan hangat tubuhku yang ada dalam pelukanmu
Melupakan debaran hatiku saat ada di dekatmu
Cukup.
Kau sekali lagi benar
Ini menyakitkan
Apa memang harus kulupakan saja semua tentang kita?
Atau haruskah aku menguburnya di dalam hatiku yang membeku?
Atau apa aku harus menghanyutkannya bersama air mataku yang kini mongering?

Kau dan aku. Cerita tentang kita.
Tak apa jika memang menyakitkan
Dan memang itu menyakitkan saat kusadari kau tak lagi di ada denganku
Tak apa untuk mengenangnya
Paling tidak bisa sedikit meredakan gelisahku
Gelisahku yang tak bisa mencintai orang lain selainmu.

Semoga bila ku menua aku bisa bangga membayang
Mengenangmu dalam memoriku yang memudar perlahan
Disaat aku menelusuri jejak kita lewat tulisan seorang amatiran

Saturday, 29 September 2012

What should i say???

aku menulis lagi...bersama dengan sepi.
aku kembali lagi, mengiris dikit demi sedikit sisa borok yg masih tersisa di hati
aku di sini lagi, mengeruk gersang yang mengabarkan kematian
yah...sunyi...kembali sunyi mencomotku ke dalam pangkuan

sabar nak, kata Tuhan. sabar yang bagaimana lagi, Tuhan? kataku padaNya.
ya sabar. carilah maknanya sendiri. nanti kau akan pasti mengerti. titik.
kini Dia pergi dengan titik-titik yang menenggelamkan aku.
bersama berjuta tanda tanya aku mengumpat.
di suruhNya sabar! tapi tak menceritakan aku perihal sang sabar itu bagaimana wujudnya.
ya sudah. aku akan berkelana mencarinya, sang sabar....

hariku terlampaui dengan memikirkan si sabar yang tak kunjung menjelma. kini sepiku perlahan pudar terganti pencarianku akan sang sabar yang diperintahkan Tuhan.

berhari-hari, aku mulai lelah. berminggu-minggu aku mulai patah. arrrghhhhhhh....muntab. aku marah tak segera menemui si sabar. keyakinanku goyah akan perkataan Tuhan. bagaimana ini? aku tak mau tak percaya lagi pada Dia. tapi aku kecewa. sungguh Ia tak berjiwa, kutukku padaNya.

kini beralih pada sepi dan sunyi lagi. arrrrrrrrrrrrgggghhhhhhhhhhhhhhh....aku sakit. perih melanda. tak ada yang bisa kusapa, tak juga Tuhan yang telah kukutuki. aku benar kecewa padaNya. ku mendiamkanNya.

lalu? bagaimana ini selanjutnya??? tak ada yang tahu. tak juga aku. antara sabar dan sunyi. mana yang kan kusanjungi?????


Wednesday, 11 July 2012

bestfriend part 2


When mourning morning comes through the days
When scattered of the heart decorating times
It is upset, it is bad. It is awful, it is damn
And unexpectedly you come wiping off my tears
And suddenly you hold my cold hand
It is ease to have you here. It is relieve to be with you here

You are my shine when the sun is covered by the cloud
You are the light when the moon is fully hidden by the dark
Hi my friend, my best friend..
Let me hold your hand..
Hi my friend, my best friend,
Seize the joy till the end


When irritated night comes to suffer me inside
When sad arrives to get this smile gone
It is terrible, it is poor. It is horrible, it is damn
And unexpectedly you take these tears away
And suddenly you put the smile on this dread face
It is ease to have you here. It is relieve to be with you here

It is about me, it is about u
And it is about us…
Coz everything we’ve learnt is never last

Tuesday, 10 July 2012

DOngkol membuang Galau


Hari yang menggalaukan. Ih, males banget sih dengar kata itu. G.A.L.A.U. Seperti tak ada kata lain saja. muak melihatnya beredar di dunia maya, apalagi di dunia nyata. Kalau boleh aku bilang, kata itu sebaiknya dimusnahkan saja dari KBBI. Waduh, apa hakku yah? Emangnya aku punya hak untuk menghapuskan apa yang sudah ada dan sudah eksis sebelum keberadaanku di muka bumi?
Sudahlah, sekarang aku ingin menuliskan tentang aku yang tengah terkatung-katung. Tengah jemu menunggu dan menanti sesuatu yang tak pasti.
Orang-orang hilir mudik di depanku, di belakangku,
Melewati sisi badanku yang kiri, kanan, lewat begitu saja.
Raut muka ini masam bercampur kerutan
Otakku bergerombol membentuk kata “DONGKOL”
Sebentuk kekacauan merampas hari yang semakin merongrong
Ku tunggu..
Ku tunggu lagi..
Ku tunggu…
Sampai ngesot-ngesot, sampai perutku tergerogot
Ijinkan ku berteriak, ijinkan ku menjerit
Hanya sekedar ingin menjumput sedikit kelegaan
Hanya sekedar ingin menuntut kebebasan
Sudahlah sudah… bersabarlah sedikit saja, sedikit lagi
Mungkin nanti semua akan memudar,
Sepudar hitam yang terenggut terik matahari
Yang menjadikannya nanar.
Apa? tak ingin nanar yang ku maui
Tak ingin kacau yang ku ingini…
Bagaimana bila ku meminta sedikit hati
Darimu yang kini tlah pergi..
Hibur aku di sini……

Monday, 9 July 2012

BESTFREN


Semua gundah memudar dengan candamu
Semua resah menguap
Seiring tawa yang berkejaran saling bertukar
Kudapatkan bahagia walau tangisanku semalam membelenggu
Kudapatkan gembira dengan senyumanmu yang terpancar

Penawar lara
Penawar duka
Yang usap air mata
Yang hapuskan derita
Kita kini di sini
Kita slalu di sini
Semua masa akan tetap sama
Sejauh apapun akan tetap satu jiwa

Penawar dukaku, jangan lepaskanku sendiri
Kita kan tetap slalu bergandeng tangan
Walau badai sebesar apapun menerjang
Tanganku akan slalu setia mengusap air matamu
Pundakku slalu siap sedia redupkan gundahmu

Pegang erat tanganku
Kan kugenggam jemari tanganmu
Sahabatku ku slalu di sini untukmu…
Kuharap kau slalu bersamaku.

Sunday, 8 July 2012

kenangan oh kenangan



Malam-malam panjang menghampiri lamunan
Sebercak kenangan merampas kesadaran
Berjuang menghempas nestapa dalam kerinduan
Terperanjat tak dapat mengentaskan
Ah, kau jahanam
Iming-iming menggiurkan kau tawarkan
Sadarkah aku ini tak bisa melawan
Mungkin kini aku tlah jadi tawanan
Semuanya buram, hanya kenangan yang terpampang
Jika saja mata batinku dapat membuka lalu melepaskan
Jika saja senyuman palsu bisa sedikit memudarkan
Kau mampir tak hanya sebentar
Kau selalu menari menyilaukan bagai pendar
Kau laksana api yang membakar
Membakar seluruh jiwaku dalam kobar

Friday, 6 July 2012

bungkam


Bungkam

Bungkam, bukan saat aku mendendam.
Bukan.
Bukan pula saat kumemendam. Bukan.
Tentu bukan.
Bukan pula saat kumengeram.
Jelas bukan.
Diam.
Tak satupun tahu kuberdiam untuk apa.
Kosong.
Udara semakin kosong.
Cahaya kian mlompong.
Bumi pun gosong.
Ah, rasanya saja.
Seperti tak ada indah yang bertahta.
Senyap. Penat. Hitam pekat.
Aku tak bisa bernapas.
Aku terpenjara dalam kebas,
Tak kurasakan apa-apa.
Mataku memutih,
Telingaku meleleh,
Mulutku mengkerut.
Siapapun pasti menghinaku,
Mereka akan mencemoohku.
Jangan harap kuberitahukan rahasiaku.